Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Suwartomo

mencari dan terus mencari...

Dodol Oleh-Oleh dari Medan ?

REP | 23 April 2013 | 15:20 Dibaca: 583   Komentar: 6   1

Setiap kali menanyakan teman-teman yang dari Medan atau Sumatera Utara untuk lebih luasnya  tentang oleh-oleh khas dari daerah mereka. pasti mereka dengan cepat akan menjawab Bika Ambon dan Sirup Markisa atau Bolu Gulung Meranti. Atau yang sedang in beberapa tahun ini pancake durian karena cukup melimpahnya buah durian di kota ini. Begitu juga saat saya mencari di google hampir semua situs atau blog merekomendasikan hal yang sama. Belum lama ini saya berkesempatan mengunjungi kota Medan dan beberapa kota di sekitarnya.  Saat saya melintas di Kecamatan Tanjung pura Kabupaten Langkat saya melihat barisan warung/toko penjual dodol pulut Langkat. demikian yang tertulis di papan promosi tokonya. Namun karena saya harus menemui seorang teman di kecamata Besitang saya hanya melewatinya dan berjanji dalam hati untuk singgah. Setelah bertegur sapa dan makan siang yang sangat nikmat tentunya  karena saya secara khusus dibuatkan masakan khas setempat yakni arsik ikan mas yang cukup besar dan udang goreng serta gulai daun ubi tumbuk saya segera bersiap-siap untuk kembali ke kota Medan. Dari teman saya tersebut bisa saya peroleh informasi bahwa memang di kecamatan Tanjung Pura terdapat sentra pembuatan dodol pulut khas Langkat yang sudah turun temurun diwariskan oleh pendahulunya namun memang penikmat dan pembuatnya semakin berkurang dewasa ini. Ditambahkan pula bahwa sebenarnya ada lagi pembuat dodol yang lebih terkenal yakni dodol melayu dari Tebing Tinggi namun tidak cukup terkenal bagi masyartakat Medan terlebih lagi bagi masyarakat  Indonesia namun cukup diminati masyarakat di negerti tetangga Malaysia. Saya segera berhenti disebuah toko yang direkomendasikan menjual dodol yang enak dan fresh karena ditoko ini selalu menjual dodol yang baru karena turn over penjualannya yang cukup tinggi sehingga tidak akan sempat tinggal lama di etalase yang memajangnya.

13667034881556436110

Penjaga toko menyapa dengan ramah dan mempersilahkan untuk mencicipi tester dodol yang mereka buat. Ada beberapa varian rasa yang mereka buat yakni pandan, nanas, wijen dan rasa orisinil. Karena lidah saya yang terbiasa mengkonsumsi dodol yang ada di Jawa saya merasa bahwa taste dodol pulut (ketan) khas Langkat ini lebih light atau ringan dan juga tidak terlalu manis sehingga seharusnya lebih bisa diterima oleh khalayak yang kurang suka dengan dodol jawa yang sangat pekat rasa manisnya. Ketika saya menanyakan perbedaannya dengan dodol khas Tebing Tinggi dijawab bahwa bahwa dodol Tebing ( begitu dikenalnya ) lebih mendekati dengan dodol yang ada di Jawa baik tekstur (karena bahan pembuatnya) maupun rasanya yang cukup manis dan ada aroma jahenya. Saya sempat mengambil gambar saat dodol tersebut baru saja di gelar di atas plastik yang lebar untuk dibungkus dan dikemas hingga siap untuk dijual.

1366704632181553863

1366704741436148404

1366704811754468650

Selama ini pengetahuan saya tentang dodol memang baru sebatas yang ada di Pulau Jawa yakni dodol yang ada di jawa Tengah dan Jawa Timur yang relatif  hampir sama ataupun dodol garut dan juga dodol durian (lempo) yang ada hampir seluruh wilayah Sumatera dan beberapa wilayah Kalimantan.

Jadi mulai sekarang carilah dodol pulut Langkat ataupun dodol melayu Tebing Tinggi sebagai oleh-oleh tambahan dari Medan selain oleh-oleh yang selama ini kita kenal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: