Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Cahayahati (acjp)

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, selengkapnya

Daun Singkong dan Daun Pepaya Harganya 3 kali Harga Daging Sapi

REP | 24 April 2013 | 14:03 Dibaca: 62   Komentar: 2   1

Urap, buntil, tumis teri daun singkong, oseng daun pepaya …. hmmm makanan daerah yang membuat kangen. Namun, apa yang dilakukan bila bahan baku utama seperti daun singkong atau daun pepaya tidak ada yang jua ???

Bila kangen makanan itu, hanya ada 2 pilihan, pilihan pertama berkreasi untuk mencari ganti daun singkong. Saya biasanya menggunakan daun Kohlrabi (Brassica oleracea var. gongylodes) sebagai ganti daun singkong.  Daun ini tidak dimakan oleh orang di Jerman, sehingga pengalaman saya ketika membeli satu buah Kohlrabi dan meminta izin pada penjualnya untuk mengambil juga daun-daunnya yang berserakan, reaksi penjualnya tentu saja senang karena dia tidak perlu membuang sampah dan bertanya apa saya punya kelinci …. hehehehhee.

1366786365674937721

Daun Kohlrabi (Brassica oleracea var. gongylodes) pengganti daun singkong (dok. http://www.lebensmittelfotos.com/2008/05/19/kohlrabi/)

Selanjutnya pengganti daun pepaya saya biasanya menggunakan daun Wirsing (Brassica oleracea convar. capitata var. sabauda) rasa daun ini yang agak pahit memang pas untuk daun pepaya walaupun dari bentuknya agak berbeda.

13667865571626645733

Wirsing (Brassica oleracea convar. capitata var. sabauda) pengganti daun pepaya (Foto Roman Röhrig http://www.kochbuchfotos.de/116/wirsing)

Pilihan kedua bila kangen urap tidak lain adalah berani memesannya walaupun dengan harga yang luarbiasa mahal. Begitu pula yang saya alami. Saking rindunya makan daun singkong dan daun pepaya, harga daun singkong dan pepaya per kg 18 Euro (hampir 200 ribu rupiah) pun saya beli juga. Padahal harga daging sapi di toko Turki per kg nya antara 7-8 Euro (80 - 90 ribu rupiah). Bisa dibayangkan mahalnya harga daun-daun tersebut, hampir 3 kali lipat harga daging sapi.

Kalau ingat dulu di sekitar rumah kami di Indonesia, pohon singkong dan pepaya bertebaran dan tumbuh subur di sekitar kami, untuk mengambil daunnya bisa kami dapatkan secara gratis. Namun, begitulah lain ladang lain belalang, daun singkong dan daun pepaya di Jerman tidak tumbuh dan harus diimpor dari negara lain. Untuk itu, tidak heran bila harganya setinggi itu tapi sekali-kali  saya beli juga, untuk menenangkan kerinduan akan urap, buntil, oseng.

Lalu dari mana asalnya daun singkong dan daun pepaya di Eropa ini ?? Ternyata diimpor dari Thailand dan Kamboja seperti terlihat dalam foto di bawah ini. Barang-barang yang dijual di toko Asia di Jerman memang banyak diimpor dari Thailand atau Vietnam.

1366786709236272285

Daun pepaya impor dari Kamboja (dok pribadi)

1366786851460400291

Daun singkong impor dari Thailand (dok pribadi)

Tentu saja mie instan, kecap manis dan sambal botol dari Indonesia juga ada tapi dominasi impor dari Thailand dan Vietnam masih menyolok. Ketika saya mencari sambal botol yang tidak ada di rak, penjual di toko Asia menjelaskan bahwa mengimpor sambal botol dan kecap manis itu ada batas minimalnya, hal itulah yang memberatkan dan membuatnya harus menunggu sampai tercapai syarat pemesanan minimal itu. Sayang sekali padahal ada konsumennya. Keinginan membeli bahan makanan Indonesia tapi barangnya tidak ada bukan hanya saya saja tapi dialami oleh banyak orang Indonesia lain.

Saya kurang tahu soal impor ekspor barang-barang ini, tapi sangat disayangkan pengusaha Indonesia kurang gencar menggunakan peluang pasar di Eropa. Memang betul di Jerman sudah ada 2 tempat belanja online untuk bahan makanan khas Indonesia tapi tidak semua orang senang belanja online jadi sebetulnya tidak ada salahnya juga bila impor seperti daun singkong dan daun pepaya ini bisa datang dari Indonesia juga, apalagi bila bebas pestisida atau organik. Hal ini bahkan mungkin bisa masuk pasar umum orang Jerman, karena orang Jerman sangat senang belanja sayuran organik. (ACJP)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Malmö di Swedia: “Saudara” …

Cahayahati (acjp) | | 26 October 2014 | 10:02

Kenapa Harus Membela Ahok? …

Zulfikar Akbar | | 26 October 2014 | 09:55

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Staf Kepresidenan, Kekuasaan di Balik Tahta …

Mas Isharyanto | | 26 October 2014 | 10:42

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



HIGHLIGHT

Marquez Pecahkan Rekor Doohan …

Suko Waspodo | 7 jam lalu

Menanti Tweet Pertama Presiden Jokowi …

Dody Kasman | 8 jam lalu

Tentara yang Berjuang di Atas Kursi Roda …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Air Terjun Bojongkoneng di Sentul …

G T | 8 jam lalu

Merangkum Keindahan Indonesia Lewat Kisah …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: