Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Bude Binda

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Makan Pecel di Lemah Abang Banjarnegara

REP | 10 May 2013 | 17:41 Dibaca: 479   Komentar: 13   3

Oleh Bude Binda

Hari Kamis kemarin pas hari libur, saya, suami, dengan seorang adik perempuan dan 5 ponakan jalan-jalan. Nah sambil berkendara, adikku bilang pengin minum dawet yang enak. “Di mana dawet yang enak, nggak harus dawet yang dekat terminal lama”. “Di alun-alun juga ada”. Suamiku menyambung, “Apa mau beli pecel dulu di Semarang Kidul?”. “Yuk beli pecel dulu”, aku antusias.

Mobil pun belok kiri di perempatan lampu bangjo dekat Polres Banjarnegara (sebelah timur Polres). Terus ke selatan melewati perumahan Korpri Desa Semarang. Di Banjarnegara ada desa/kelurahan bernama Semarang. Biar kalau ngobrol nggak keliru dengan Semarang ibu kota provinsi Jawa Tengah kami menyebutnya Semarang Kidul. Maksudnya Semarang di selatan kota.

Nah letak warung pecel yang terkenal enak ini, persis di sebelah selatan perumahan Korpri. Kami pun turun dari mobil dan ramai-ramai masuk warung. Setelah duduk pemilik warung yang masih muda dan cantik tanya,”Yang mau makan pecel berapa?”. “Dua Mbak, pedasnya sedang”.  Sambal pecel di sini ada tiga tingkat pedas. Tidak pedas, sedang, dan pedas. Si Mbak manggut wong kami delapan orang kok hanya makan dua piring pecel…..tapi yang lain pesan tiga gelas es teh, dua gelas es jeruk dan makan gorengan. Ada pisang goreng, tempe kemul atau mendoan, tahu goreng yang sudah tersedia di meja.

Pecelnya datang, piringnya sih kosong karena saya nggak pesan ketupat dan tahu, sayur pecelnya di letakkan di piring bulat. Sambalnya di wadah yang besar. “Ibu mau kecombrang?”, Mbak penjual menawari kami. “Mau”, maka datang lagi piring seng yang lebih kecil dengan isi bunga kecombarang, daun bayam ginseng, dan sayuran sawah lain. Kalau sayur yang di piring pertama isinya kangkung, bayam, daun ketela, kacang panjang, kecipir, kol, timun. Istimewanya kami ambil sayur sesukanya, sekenyangnya. Sayur yang disediakan banyak, nggak habis dimakan dua orang. Sebenarnya bisa juga pesan ketupat dan tahu sebagai pelengkap, oleh penjualnya akan diiris-iris dan diletakkan di piring. Tadi kami nggak pesan, ingin makan sayur pecelnya saja.

Sayur pun saya ambil pakai sendok masuk ke piring, saya suka semua sayur yang dihidangkan. Saya ambil semua jenis. Piring pun penuh, diguyur sambal. Saya makan, hemm memang enak, pedas. Ada rasa manis dan sedikit asin. Bumbu pecel di sini tidak berbau daun jeruk, tapi lebih beraroma kencur.

Setelah saya dan adik  makan pecel, yang lain ponakan dan suami makan gorengan dan minum es. Kami pun   bangkit. Aku masih pesan satu lagi dibungkus. Adik antri membayar. Setelah dihitung, eh penjualnya ngitungnya cepat lho, lebih cepat dari kalkulator, tiga porsi pecel, 7 gorengan, 3 es teh, 2 es jeruk hanya membayar Rp27.000,00. Ya dua puluh tujuh rupiah saja!  Murah kan?

Warung ini selalu ramai pengunjung, apa lagi saya datang pas libur. Bahkan saya pernah ketemu Pak Anas pengusaha kaya di Banjarnegara, pemilik beberapa pom bensin/SPBU. Jadi jangan remehkan dengan warung yang sederhana, karena walau bentuknya tidak mentereng, namun rasa yang pelayanan yang ramah membuat banyak didatangi pelanggan. Termasuk orang-orang kaya bermobil.

Pecel yang enak di Banjarnegara selain di Lemah Abang, Semarang, Banjarnegara juga ada di depan kolam renang Paweden , Banjarmangu, Banjarnegara. Letaknya di jalur Banjanegara- Banjarmangu-Karangkobar. Di sini sayur pecelnya bahkan lebih banyak lagi jenisnya seperti ada daun so/melinjo, kara, dan sayur lain yang lazim untuk pecel. Kalau kara dan so jarang dimasak pecel.

Silakan yang mau makan pecel enak mampir ke warung Lemah Abang, atau warung pecel di Paweden. Salam.

Bude Binda, Banjarnegara Jumat 10 Mei 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dari Kompasianival: Strategi Ahok, Emil, dan …

Ninoy N Karundeng | | 23 November 2014 | 08:22

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | 2 jam lalu

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 13 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 15 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 8 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 8 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 8 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: