Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Festival Kuliner Tradisional untuk Emak-emak

REP | 19 May 2013 | 20:45 Dibaca: 403   Komentar: 6   2

1368970611968182360

Emak-emak membawa peralatan dapur ke lokasi Festival Kuliner Tradisional, di Pantai Menye Kecamatan Bintang Aceh Tengah.

Gebrakan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon tergolong unik dan menghebohkan. Sebelumnya, sebanyak 176 mahasiswa FT UGP yang sedang melakukan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) alias KKN di Kecamatan Bintang Aceh Tengah sepakat membantu membuat blog desa yang berisi profil dan informasi tentang desa tersebut.

1368972144118228883

Gutel, menu pembuka yang dikukus menggunakan tepung beras kasar, kelapa dan gula.

Minggu lalu (5/5), mereka kembali menggegerkan publik di Dataran Tinggi Gayo. Mereka menggelar festival kuliner tradisional bagi emak-emak dari setiap desa lokasi KPM. Animo emak-emak untuk ikut festival kuliner itu sungguh luar biasa, terbukti semua desa dalam wilayah Kecamatan Bintang tidak ada yang absen mengirimkan perwakilannya.

Lokasi festival kuliner itu di Pantai Menye yang terletak di ujung timur Danau Laut Tawar. Biasanya kawasan itu sepi, namun, hari itu didatangi emak-emak dengan membawa sejumlah peralatan memasak. “Emak-emak dari 15 kampung di Kecamatan Bintang ikut semua, sedangkan dari Kecamatan Lut Tawar hanya mengirim peserta dari 4 desa, Kecamatan Kebayakan 1 desa dan Kecamatan Bebesen juga 1 desa,” jelas Zulfikar Ahmad ST, Pudek III FT UGP.

Jenis kuliner yang mereka ikutkan dalam festival itu tergolong cukup unik. Sebagian besar jenis kulinernya jarang ditemukan di pasaran. Emak-emak itu menampilkan semua variasi kuliner yang menggunakan bahan baku beras, sayuran dan ikan setempat. Meskipun tampilan dan cara penyajiannya cukup sederhana, tetapi aroma yang ditebarkan oleh berbagai jenis kuliner itu mampu membuat perut keroncongan.

1368972264374627281

Labu kuning rebus plus gula aren cair sebagai menu penutup

Hasil pengamatan kompasianer terlihat semua peserta menampilkan menu utama berupa ikan nila/mas masam jing (asam pedas), ikan depik pengat dan depik dedah. Untuk menu pembuka, ada yang menyiapkan lepat gayo yang dibuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan gula aren sehingga warnanya coklat. Ada juga gutel, penganan tradisional yang dikukus dari bahan tepung beras, gula aren plus kelapa.

Beberapa peserta festival ada yang menyiapkan menu penutup. Diantaranya berupa singkong rebus yang dibalur gula aren cair. Ada juga yang menyiapkan irisan pisang kepok rebus yang dibalur dengan kelapa. Termasuk dua peserta yang menyediakan bubur tepung beras manis yang beraroma daun pandan.

Menu penutup paling unik adalah labu kuning rebus yang dibubuhi gula aren cair didalamnya. Tampilannya antik. Kompasianer mencoba mencicipi labu kuning rebus plus gula aren itu, ternyata cukup enak. Selama ini, labu kuning digunakan untuk campuran kolak atau bolu. Kreatif, begitu kata kompasianer kepada emak-emak itu.

13689723582061021287

Lepat gayo, menu pembuka yang dibuat menggunakan beras ketan, gula aren plus kelapa sebagai isinya.

Apa hadiah yang disediakan mahasiswa PKM tersebut sampai semua peralatan memasak diboyong emak-emak itu ke lokasi festival? Hadiahnya bukan uang dan tidak sangat luar biasa. Untuk juara pertama, mahasiswa PKM menyediakan 1 unit kompor gas plus tabung gas dan 1 buah termos nasi ukuran 30 liter. Juara kedua disediakan kompor gas plus tabung gas dan 1 buah termos nasi ukuran 26 liter, serta untuk juara ketiga disediakan hadiah kompor gas plus tabung gas dan 1 buah termos ukuran 20 liter.

Hasil penilaian dewan juri, pemenang pertama festival kuliner tradisional itu diraih oleh emak-emak dari Desa Kelitu Kecamatan Bintang. Untuk pemenang kedua diraih oleh emak-emak dari Desa Mendale Kecamatan Kebayakan, dan pemenang ketiga diraih oleh emak-emak dari Desa Bebesen Kecamatan Bebesen.

Apa motivasi mahasiswa PKM itu menyelenggarakan festival kuliner tradisional itu? Menurut Pudek III FT UGP, Zulfikar Ahmad ST, para mahasiswa ingin mengetahui menu-menu potensial yang dapat dijadikan kuliner andalan dalam mendukung pariwisata di Aceh Tengah. Hasilnya diluar dugaan, ternyata ragam kuliner yang dimiliki warga sangat banyak dan cukup enak meskipun tampilannya masih sederhana. “Kami bangga atas tingginya budaya kuliner masyarakat disini,” pungkas Zulfikar.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 5 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 13 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 13 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 16 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: