Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Wendy Biliam

Sharing Experience to All Readers

Mie Siantar “Gang Surabaya”

REP | 16 July 2013 | 13:41 Dibaca: 462   Komentar: 3   2

Mungkin banyak orang tak mengenal kota Pematang siantar, kota pematang siantar merupakan kota yang terletak di sumatera utara di kabupaten Simalungun dan memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk ditempuh dari kota medan, ada hal yang menarik dari kota ini. Yaitu, Sensasi kuliner yang tak akan terlupakan dari setiap penjual yang ramah kepada pembelinya. Salah satu pilihan kuliner yang WAJIB untuk didatangi adalah mie siantar “gang surabaya”.

13739501121195572156
13739543461845425229

Pertama kali kunjungan saya ke kota Pematang siantar adalah mencicipi mie gang surabaya ini, walaupun gang surabaya ini sempit, tetapi tetap saja makanan yang ditawarkan oleh penjualnya memukau setiap pelanggan yang datang. Konsumen yang telah mencicipi mie khas gang surabaya ini dijamin akan ketagihan dan pasti akan mengunjunginya untuk mencicipi mie khas siantar ini.

Kedai mie ini berada disebelah sekolah sultan agung yang sudah menjadi sekolah unggulan dari zaman dulu, kedai mie ini selalu buka setiap pagi dan menjadi pilihan oleh warga pematang siantar dan wisatawan untuk mencicipinya. Dari yang Tua sampai Anak - Anak selalu datang ke kedai ini untuk sarapan pagi dan mereka bisa memilih untuk “Dine-In” ataupun dibawa pulang untuk disantap di rumah. Sehingga kedai ini menjadi pilihan utama bagi wisatawan dan masyarakat pematang siantar.

Aroma wangi dari mie yang dimasak, asap yang mengepul disekitar gang menambah semerbak wangi gang surabaya yang membuat lidah tak sanggup untuk menahan nafsu makan. Membuat orang “Dimabukkan” oleh aromanya yang tercium dari kualinya. Dan yang lebih menyenangkannya lagi harganya yang terjangkau oleh setiap kalangan menyebabkan kita bisa menambah berkali - kali untuk mencicipi mie gang surabaya ini.

Kita bisa memesan 3 jenis mie yang ingin kita cicipi, yaitu Kwetiau, Bihun, dan Mie kuning. Dalam memasaknya kedai ini menggunakan bawang putih, sawi hijau, dan tauge serta kita bisa memilih untuk menggunakan telur ayam ataupun telur bebek dalam mie tersebut. Dan juga kita dapat memilih apabila kita menginginkan mie yang kita cicipi itu pedas atau tidak. Dan setelah dimasak maka mie yang kita pesan akan dibungkus dengan daun pisang dan diberikan sumpit oleh penjual.

13739517841672051972

Hal yang paling menarik dari “warung” yang kecil ini adalah mereka tetap mempertahankan tradisi yang sudah berjalan lebih dari 40 tahun, Yaitu menggunakan kayu bakar dalam memasaknya. Penjual menggunakan tungku batu besar yang sepertinya sudah digunakan sejak lama dan didalam tungku api tersebut terdapat api yang cukup besar yang berasal dari kayu bakar untuk memasak mie yang akan disajikan oleh setiap pelanggan.

Yang paling membekas dalam kunjungan saya ke kedai ini adalah nenek yang tetap membungkus mie yang telah dipesan oleh pelanggan, semenjak kunjungan pertama saya ke kota siantar saat seumuran anak SD sampai kunjungan saya bulan juli 2013 ini, nenek tersebut tetap membungkus mie yang rutin ia lakukan setiap pagi untuk melayani konsumennya. Walaupun nenek tersebut cukup tua tapi ia tetap giat bekerja.

13739532201837669275
Hal tersebut membuat saya salut, karena nenek tersebut menunjukkan pada setiap orang khususnya orang pematang siantar untuk terus bekerja walaupun umur sudah tua, dan jangan sekali - kali bermalasan. Hal itulah yang dapat kita tangkap dari kegiatannya yang dilakukan setiap hari untuk membantu kedai tersebut. Nilai dari kegigihan dan semangat bekerja itulah yang membuat kedai ini tetap buka dan bertahan sampai puluhan tahun, walaupun saingan yang dihadapi adalah restoran “Fastfood” yang menjadi idola warga pematang siantar ini. Loyalitas konsumen tetap terjaga karena kekonsistenan dari kedai tersebut yang tetap mempertahankan tradisi mulai dari cara memasak sampai cita rasa dari makanan itu sendiri.
1373955049635162849

Mempertahankan bisnis keluarga, hal tersebut yang saya lihat dari kedai mie ini. Walaupun anak - anak dari keluarga ini kuliah diluar pematang siantar. Tetapi mereka tetap melanjutkan bisnis keluarga, dan menurut saya itu hal yang harus diancungi jempol karena mereka tetap menjalankan bisnis turun - temurun yang membuat konsumen yang mempunyai kenangan nostalgia akan kedai ini tetap menjadi pelanggan setia dan tetap datang ke kedai ini walaupun mereka tidak tinggal di kota pematang siantar.

Jadi apabila anda mengunjungi kota Pematang Siantar, jangan lupa untuk sarapan di Kedai Mie di Gang Surabaya, sekaligus menikmati hangatnya kopi Kok Thong di Kedai kopi. Terutama bagi para traveler yang penasaran kalian bisa mengunjunginya pagi hari sembari bercengkrama bersama teman di pagi hari untuk berjalan - jalan mengelilingi kota Pematang Siantar yang rapi, tenang dan nyaman.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: