Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Sinung Wikantoro

Sinung Wikantoro, ST. MM lahir di Bantul 29 September 1977 adalah seorang professional marketing dan selengkapnya

Wisata Kuliner di Bantul

REP | 05 April 2014 | 01:24 Dibaca: 100   Komentar: 1   1

Seminggu di kota kelahiran terasa sangat singkat. Kota ini begitu berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih sekolah disini. Jalan yang selalu aku tempuh dengan berjalan kaki beralas sepatu butut dari rumahku di dusun Karanggayam menuju SMP N 1 Bantul dulu adalah seruas jalan yang membentang di tengah persawahan hijau, sekarang sudah ada rumah di kanan kirinya. Merenungkan masa dulu, tiba-tiba aku merasa menjadi orang asing disini. Ya, kerena semua yang ada di memoriku berbeda dengan sumua yang ada di depan mataku saat ini. Bantul saat ini adalah sebuah kota yang ramai, dengan begitu banyak desa tujuan wisata, jalan-jalan dipenuhi sepeda motor terutama di pagi dan sore hari (aku masih ingat dulu jalan-jalan disini disesaki oleh sepeda). Namun ada satu hal yang tak hilang dari kota ini, yaitu keramah tamahan.

Sudah menjadi kebiasaan di setiap liburan, hal utama yang aku buru di setiap kota adalah tempat makan. Kota ini sungguh memanjakan setiap warga dan pengunjungnya untuk menikmati sajian-sajian khas yang tidak mudah ditemukan di tempat lain, dengan harga yang sangat terjangkau. Di hari pertama liburan kami, kami sekeluarga memutuskan untuk makan siang di daerah Jalan Bantul. Ini adalah ruas jalan paling sibuk di kota Bantul yang menghubungkan kota Bantul dengan Yogyakarta. Tujuan kami adalah Ayam Bakar Nusantara yang berada di jalan Raya Bantul KM 10 (150m sebelah utara Masjid Agung Manunggal Bantul).

Ini adalah restoran ayam bakar terbesar di kota in, menyajikan menu ayam kampung yang dibakar dengan bumbu rempah-rempah. Sungguh berbeda dengan ayam bakar yang bisas saya santap di Jakarta, karena ayam bakar di  Ayam Bakar Nusantara tidak dibakar memakai kecap tapi memakai olesan rempah-rempah yang aromanya sangat gurih mengundang selera. Warna ayam bakar juga berbeda, cenderung coklat seperti gula jawa (bukan hitam kecap seperti ayam bakar kebanyakan). Untuk ukuran makan di Bantul, restoran ini tergolong mahal, namun jika anda sudah terbiasa melanglang berbagai kota, anda pasti sependapat dengan saya kalau makan di sini sangat ramah kantong. Bagaimana tidak, seporsi makan siang berisi 1/4 ekor ayam kampung bakar dengan nasi putih, sambal rempah-rempah dan lalapan hanya dihargai 17 ribu rupiah.

Saya mencoba minuman yang menurut pramusaji aadalah minuman khas kota bantul, yaitu wedang uwuh. Nikmat sekali karena mengandung jahe dan seduhan kulit kayu secang yang membuat minuman ini berwarna kemerahan. Gula batu yang digunakan sebagai pemanis membuat cita rasa minumna ini sangat bernbeda, segar dan khas.

Selepas makan siang kami memilih untuk berkeliling kota Bantul dan mengunjungi tempat-tempat yang kami kenal di masa kecil dulu. Di sebelah barat kota Bantul terdapat pohon beringin yang sangat besar di desa Ringinharjo. Tempat yang sangat teduh dan nyaman, dulu aku sering beristirahat di bawah pohon ini selepas berlatih baris-berbaris di lapangan yang letaknya hanya sekitar 100 meter dari lokasi pohon beringin ini.

Menjelang senja, kami menyusuri jalan Wahidin Sudiro Husodo. Jalan ini sekarang cukup ramai selain karena disini terdapat RSUD Panembahan Senopati yang saat ini sudah dibangun sangat besar, juga saat ini daerah ini sudah menjadi pusat kulinernya kota Bantul. Mulai dari simpang 5 Telkom ke timur hingga RSUD terdapat banyak sekali tempat makan lesehan yang menjual menu lele goring, ayam kampung goring dan angkringan. Di depan RSUD terdapat angkringan yang sangat ramai bernama angkringan Samino. Angkringan ini sudah ada sejak tahun 2000 an dan buka 24 jam, menyediakan menu khas Jogja sego kucing, susu jahe dan lain-lain. Setelah menyusuri jalan dari Telkom sampai melewati RSUD, kami memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat  makan yang cukup mencolok karena ramai dan bersih, bernama Kampong Kremes yang berada 200 meter di sebelah Timur RSUD Panembahan Senopati. Gurihnya aroma kremes yang digoreng bersama daging ayam dan tempe khas Bantul membuat saya terpaksa memajukan jadual makan malam saya. Karena restoran ini memasak makanannya di luar, maka saya dapat memanjakan hobi saya untuk mengintip dapur restoran dan mengamati cara memasaknya (Ini mah bukan mengintip lagi tapi menyaksikan). Proses pembuatan kremes cukup menjadi atraksi yang menarik untuk mengisi waktu tunggu yang lumayan lama karena antrian saat itu cukup banyak. Beberapa ibu mengantri pesanan untuk dibungkus dan dibawa pulang, sementara di dalam restoran ada dua pasang remaja yang menikmati makan malam yang menurut saya masih terlalu kepagian. Tak urung, saya pun menjadi temah mereka untuk makan malam kepagian disini. Seporsi sayap kremes yang ternyata hanya dibanderol 6 ribu rupiah tak mampu membendung lapar di lambung, maka saya memesan kembali terong goreng yang ternyata adalah terong diiris tipis-tipis dan digoreng tepung. Woww… gurih sekali. Ayam kremes di Kampong Kremes berbeda dengan ayam goreng kalasan yang sering saya makan di Jakarta, selain cenderung gurin (tidak manis), juga kremesnya terasa lebih lembut. Nasi pulen khas bantul yang saya yakin belum lama dipanen karena rasanya sangat pulen, ditemani sambal bawang yang menurut saya porsinya kekecilan (heisss. alas an saja karena saya minta tambah 2x), akhirnya menjawab tuntutan hidung dan perut yang tidak mampu menahan aroma yang disebar dari wajan penggorengan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 3 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 3 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 5 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 7 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: